JAKARTA — Di atas meja kayu yang berserak naskah dan secangkir kopi dingin, Sutan Takdir Alisjahbana bersama rekan-rekannya merajut sebuah mimpi besar. Indonesia baru saja merdeka, tapi sebuah pertanyaan menggelayut di kepala para pemikir bangsa: untuk apa kemerdekaan politik jika akal budi rakyatnya tetap terjajah dalam kebodohan? Dari kegelisahan itulah, di bawah payung semangat zaman yang bergemuruh, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) lahir pada 17 Mei 1950.
Bukan sekadar wadah berkumpulnya para pengusaha kertas dan percetakan, IKAPI adalah manifestasi dari ikhtiar kebangsaan. Pada masa-masa awal berdirinya di Jakarta, organisasi ini diinisiasi untuk mengambil alih kedaulatan literasi yang sebelumnya lama dicengkeram oleh monopoli penerbit asing peninggalan kolonial. Diarsiteki oleh tokoh-tokoh besar seperti Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Achmad Notosoetardjo, IKAPI tumbuh bukan di atas fondasi komersial semata, melainkan di atas asas gotong royong dan kekeluargaan—sebuah keyakinan bahwa buku adalah jembatan emas menuju peradaban yang berdaulat.
Menjaga Warisan, Menembus Zaman
Tujuh dekade lebih telah berlalu sejak ketukan palu pertama sidang pendiriannya. Dari segelintir penerbit nasional yang berhimpun di masa pascakemerdekaan, kini IKAPI telah bertransformasi menjadi rumah besar bagi ribuan penerbit buku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Namun, perjalanan sebuah perkumpulan profesi tentu tak pernah sepi dari terjalnya jalan. Perubahan zaman menghantam dunia perbukuan tanpa ampun. Di era ketika gawai dan layar digital menggerus kebiasaan meraba kertas, IKAPI tidak memilih untuk tinggal diam. Melalui berbagai lini—mulai dari ajang tahunan Indonesia International Book Fair (IIBF) hingga apresiasi sastra lewat IKAPI Awards—organisasi ini terus berupaya menjaga agar napas literasi tetap panjang di negeri ini.
Ada romantisme tersendiri tatkala melihat bagaimana buku-buku dirawat di tengah disrupsi teknologi. Di kantor pusatnya di Jalan Kalipasir, Cikini, denyut percakapan tentang masa depan bacaan anak bangsa terus berdenyut. Melalui unit-unit seperti Akademi Penerbitan Sastra Indonesia hingga agen literasi internasional, IKAPI membuktikan bahwa kiprah mereka melampaui batas-batas administratif perdagangan buku. Mereka adalah penjaga gawang ingatan kolektif bangsa.
Merawat Asa di Lorong Waktu
Pada akhirnya, membaca sejarah IKAPI sama halnya dengan merunut kembali garis sunyi perjalanan intelektual Indonesia. Di balik setiap lembar buku pelajaran sekolah, novel-novel sastra yang menghentak nurani, hingga riset-riset ilmiah yang mengubah kebijakan, ada tangan-tangan tak terlihat dari para penerbit anggota IKAPI yang bekerja dalam diam.
Ketika dunia bergerak begitu cepat, dan lembaran-lembaran kertas perlahan bergeser menjadi piksel di layar gawai, esensi dari apa yang dirintis oleh Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan pada tahun 1950 tetap abadi: mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan kerja peradaban yang tak pernah mengenal kata usai.

Komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar