BUKITTINGGI,  — Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, menyalurkan insentif Triwulan II Tahun Anggaran 2026 senilai Rp 1,68 miliar kepada 735 guru keagamaan dan 154 garin masjid serta musala. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (30/7/2026).

Penerima bantuan tersebut mencakup guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA), Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), Rumah Tahfizh Al-Qur'an (RTQ), pondok pesantren, guru swasta, hingga marbot masjid.

Ibnu Asis menyampaikan, penyerahan insentif ini merupakan bagian dari komitmen Pemko Bukittinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berakhlak dan berbudaya. Selain dukungan finansial, pemerintah daerah juga memberikan perlindungan sosial ketenagakerjaan secara menyeluruh.

    "Peningkatan kualitas SDM berlandaskan nilai agama dan budaya merupakan salah satu misi utama pembangunan daerah. Perhatian kepada para pendidik keagamaan dan penjaga rumah ibadah terus kami hadirkan melalui insentif berkala serta jaminan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan," ujar Ibnu.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Bukittinggi Syukri Naldi menjelaskan, Pemko Bukittinggi mengalokasikan total anggaran sebesar Rp 7,782 miliar dalam APBD 2026 untuk insentif guru keagamaan dan garin. Khusus pencairan Triwulan II, dana yang disalurkan mencapai Rp 1,687 miliar.

Tak hanya mengucurkan uang tunai, Pemko Bukittinggi juga menanggung iuran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi seluruh penerima insentif tersebut.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Bukittinggi Iddal menyebutkan, para guru dan garin diikutsertakan dalam dua program perlindungan, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Sepanjang tahun 2026, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran senilai Rp 57,31 juta untuk pembayaran iuran program tersebut.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kota Bukittinggi Irwan mengapresiasi langkah konsisten pemerintah daerah. Menurutnya, ustaz, ustazah, dan garin memegang peran krusial dalam membina moral generasi muda di tengah dinamika sosial.

"Para pendidik keagamaan tidak sekadar mengajarkan baca-tulis Al-Qur'an, tetapi juga menanamkan fondasi karakter dan etika yang menjadi bekal penting bagi anak-anak di masa depan," kata Irwan.