Foto: RRI.co.id

BUKITTINGGI – Dalam rangka menyambut peringatan 124 tahun kelahiran Proklamator Republik Indonesia, Mohammad Hatta, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menggelar kegiatan wicara (talkshow) inspiratif pada Senin pagi, 10 Agustus 2026. Acara yang berlangsung di kawasan Gulai Bancah, Bukittinggi ini menjadi momentum bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali menyelami pemikiran, perjuangan, serta keteladanan Bung Hatta.

Kegiatan yang berlangsung selama empat jam tersebut mengangkat tema "Menjaga Akar, Merawat Tunas: Buah Pemikiran Bung Hatta" dan dipandu oleh Andini Miza Putri, S.I.Kom, M.M., dari RRI Bukittinggi. Diskusi mendalam dalam acara ini membedah berbagai nilai luhur yang diwariskan Bung Hatta, mulai dari kejujuran, disiplin, kesederhanaan, hingga kecintaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan bangsa.

Mohammad Hatta, yang lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, dikenal sebagai sosok intelektual, negarawan, dan Bapak Koperasi Indonesia yang memiliki kedekatan emosional dengan dunia literasi. Oleh karena itu, peringatan hari kelahirannya selalu menjadi dorongan bagi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta—yang juga berfungsi sebagai pusat literasi dan ruang interaksi masyarakat—untuk terus menumbuhkan budaya membaca di tengah publik.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya aktualisasi nilai-nilai Bung Hatta. Menurut beliau, masyarakat tidak hanya cukup mengenang Bung Hatta sebagai tokoh sejarah, tetapi juga harus mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.

"Nilai-nilai yang ditinggalkan Bung Hatta tetap sangat relevan untuk diterapkan di era modern ini," ungkap Prof. E. Aminudin Aziz.

Melalui perhelatan peringatan 124 tahun kelahiran Bung Hatta ini, diharapkan semangat generasi muda untuk membaca, berpikir kritis, serta mencintai ilmu pengetahuan semakin menguat. Dengan mengambil inspirasi dari perjuangan sang tokoh bangsa, diharapkan lahir generasi penerus yang mampu menjaga akar budaya literasi sekaligus merawat tunas-tunas pemikiran cerdas bagi kemajuan Indonesia.