BUKITTINGGI — Dalam rangkaian lawatan kerjanya ke Kota Bukittinggi, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., menyempatkan waktu khusus untuk menggelar dialog interaktif bersama para pejuang literasi daerah.

Kegiatan yang mempertemukan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serta Relawan Literasi Masyarakat (Relima) se-Sumatera Barat ini berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, bertempat di Ruang Seminar Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Turut mendampingi jalannya acara sebagai tuan rumah, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Leksi Hedrifa.
Ruang Terbuka Sampaikan Uneg-uneg dan Kendala Lapangan

Dialog yang dihadiri puluhan pengelola TBM dan Relima dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Barat ini dikemas secara hangat dan santai. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, yang menyampaikan apresiasi kepada Perpusnas atas guliran program Bahan Bacaan Bermutu (B3)—berupa alokasi seribu buku untuk perpustakaan desa atau kelurahan.

Dalam sesi diskusi, para relawan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk menyampaikan berbagai kendala dan masukan langsung kepada Kepala Perpusnas:

  •     Sepriyadi (Relima Kepulauan Mentawai) menyoroti tantangan belum optimalnya pemanfaatan buku B3 di tingkat nagari/desa, serta mempertimbangkan peran relawan dalam mengoptimalkan koleksi tersebut.
  •     Hernan Pratama (Relima Kabupaten Agam) memberikan masukan terkait kurasi jenis buku, di mana buku-buku sastra dan cerita fiksi terbukti jauh lebih memikat minat baca anak-anak di nagari.
  •     Rahmi (Relima Kabupaten 50 Kota) berbagi cerita haru mengenai beratnya tantangan menarik anak-anak dari ketergantungan gawai (gadget), yang disiasatinya melalui metode read aloud dan kegiatan kreatif.
  •     Hasan Achari Harahap (Ketua Forum TBM Sumbar) serta Denni Meilizon (Ketua Forum TBM Pasaman Barat) turut mengapresiasi program B3 sekaligus mengusulkan solusi agar buku-buku tersebut dapat disalurkan secara sinergis melalui perpustakaan sekolah di nagari demi mengoptimalkan pemanfaatannya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Prof. E. Aminudin Aziz memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap relawan dan pengelola TBM. Beliau menilai bahwa para pejuang literasi ini telah bekerja melampaui tugas normal karena digerakkan oleh panggilan nurani dan rasa tanggung jawab terhadap kemajuan masyarakat.

    “Urusan hasil itu bukan urusan kita. Itu adalah urusan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang menjadi urusan kita adalah bagaimana kita melakukan ikhtiar yang terbaik dulu,” pesan Prof. E. Aminudin Aziz menyemangati para peserta dialog.

Selain itu, Kepala Perpusnas mengungkapkan bahwa di tengah fase efisiensi anggaran saat ini, Perpusnas merencanakan adanya penambahan anggaran pada tahun 2027 yang diprioritaskan untuk alokasi bantuan buku ke TBM serta perpustakaan desa/kelurahan. Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara Relima dan TBM karena keduanya sama-sama mengemban misi mulia menyebarkan praktik baik literasi.

Menutup arahannya, Prof. E. Aminudin Aziz berharap jumlah Relima secara nasional dapat meningkat dari 360 menjadi 500 orang pada tahun 2027. Para relawan didorong untuk berperan aktif sebagai mediator dan katalisator yang jeli membaca situasi lapangan—seperti mengoptimalkan peminjaman buku B3 dari nagari ke TBM-TBM setempat agar manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh anak-anak pembaca.